| Menerobos Batas Kenyamanan dalam Mengajar |
|
|
|
| Written by admin | |
| Monday, 15 February 2010 | |
|
Pada suatu saat seorang guru masuk ke kelas di sebuah SMP di mana dia mengajar . Sang guru masuk ke kelas dengan menggunakan jaket tebal, sepatu gunung, tas ransel besar dan penutup wajah khas untuk mendaki gunung. Kira-kira apa reaksi siswa-siswanya ketika sang guru melakukan sesutu yang “tidak lazim” tersebut? Tentu saja bermacam-macam ada yang kaget, ada yang terheran-heran, ada yang kaget, ada yang menganggap sang guru ini aneh,bahkantidak sedikit siswanya yang menganggap sang guru ini “gila”. Setelah menyapa muridnya dan memberikan respon yang atraktif atas beberapa komentar muridnya,kemudian sang guru ini mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswanya mengapa dia melakukan hal yang tidak lazim tersebut, hingga pada akhirnya sang guru mengeluarkan isi dari tas ranselnya. Ternyata, di dalamnya terdapat beberapa peralatan untuk camping seperti senter dan kompas.Ujung-ujungnya ternyata sang guru ini akan mengajarkan tentang magnet. Fenomena seperti di atas mungkin memang tidak lazim dan masih jarang dijumpai di kelas terutama ketika seorang guru akan mengajar. Keberanian guru untuk beperilaku tidak lazim ketika akan memulai kegiatan belajar mengajar guru lebih sering melakukan kegiatan mencairkan suasana dengan sesuatu yang monoton setiap hari, sehingga bagi siswa tidak ada sesuatu yang “menarik” dan membuat mereka “ketagihan” untuk menunggu-nunggu “kegilaan” apa lagi yang akan dilakukan oleh sang guru.
Segalanya berbicara Ketika seorang guru akan masuk ke kelas, maka sebenarnya dia sudah mengirim pesan kepada siswa-siswanya. Senyumnya, lambaian tangannya, postur tubuhnya, dan atribut-atribut yang menyertainya bisa “berbicara”ke siswa-siswanya. Ketika guru kurang memperhatikan apa pesan yang ingin dikirimkan ke peserta didiknya, maka akan cenderung tidak perhatian tentang perlunya membangunkan minat belajar siswanya sedini mungkin. Dalam pikirannya, yang penting penguasaan materi dan buku paket adalah sesuatu yang cukup untuk menjadikan anak-anak tertarik dengan dengan dirinya.
Menerobos Kenyamanan Apa yang dilakukan oleh sang guru pada awal tulsan ini adalah yang biasa disebut dengan keluar dari zona nyaman atau out of box dalam pembelajaran. Memberikan stimulus otak anak untuk bereaksi adalah kunci pembuka bagi terbangunnya minat dan hasrat belajar mereka. Ketika seorang guru dengan kreatif mampu memvariasi awal pembelajaran dengan sesuatu yang unik, aneh dan tidak lazim dan semuanya itu mengarahkan kepada materi yang akan diajarkan, maka mau dibawa kemanapun pembelajaran, ketertarikan siswa akan tumbuh dengan sangat luar biasa, apalagi dalam satu hari siswa mengalami lebih 3 pergantian pelajaran. Apabila para guru dapat konsisten melakukannya, maka minat belajar siswa akan muncul sebagaimana salah satu tag iklan “kesan pertama begitu menggoda...selanjutnya terserah Anda”
Kenali Dunia Siswa Di dalam pembelajaran Quantum yang dipopulerkan oleh Bobbi de Porter, azas utama dalam pembelajaran adalah memahami dunia siswa. Hal ini akan sangat membantu guru dalam menemukan hal-hal yang bisa membuat anak-anak heran, terkejut, tertawa, kaget di awal-awal pembelajaran. Semakin baik pemahaman guru dengan dunia siswa akan semakin terarah pula kekuatan untuk menerobos kenyamanan mengajar guru.
Kenali Peta Kekuatan Dalam dunia belajar mengajar, sudah dikenal dengan baik apa itu gaya atau modalitas belajar, yaitu cara tercepa otak dalam menyerap informasi, berinteraksi dan berkomunikasi. Di dalam mempersiapkan diri untuk selalu berusaha keluar dari zona nyaman pembelajaran, guru perlu juga mengenali gaya belajarnya, apakah visual, auditori atau kinestetik. Bagi yang bermodalitas visual, maka dapat melengkapi pembelajaran dengan membawa barang-barang yang menarik untuk diperlihatkan ke siswa, berpakaian dan berpenampilan yang unik. Bagi yang bermodalitas auditori, dapat melakukan cerita, dongeng, menyanyi, maupun membaca puisi. Bagi guru kinestetik, maka di awal pembelajaran bisa langsung melakukan gerakan-gerakan tertentu yang lucu unik maupun menantang siswa, akting dengan peran-peran tertentu, maupun mendemonstrasikan cara kerja alat tertentu. Ketika kekuatan tersebut diasah, maka akan semakin banyak ide yang bisa dikembangkan oleh guru.
Hasrat yang berbuah kebaikan Keluar dari kebiasaan sehari-hari dalam mengajar termasuk ketika mengawali pembelajaran memerlukan niat yang kuat sehingga hasrat (passion) bisa terjaga, sehingga ide-ide sederhana bisa diwujudkan di dalam pembelajaran dan dikembangkan lebih luas. Guru SMP di atas menunjukkan bahwa hasratnya untuk membuat siswanya tertarik dan berminat dengan pembelajarannya akan berbuah kepada semakin baiknya hasrat belajar siswa dan pada akhirnya akan berdampak pada bertambah dan tersebarnya kebaikan di negara kita tercinta, semoga! (as-ST) |
|
| Last Updated ( Monday, 15 February 2010 ) |
| Next > |
|---|


