|
“Gimana sih kamu Yan? Ngerjain gini ja nggak bisa! Kamu tuh apa yang dipelajari? Gimana mau bisa UN kalau perkalian ja nggak hafal?”seorang perempuan sebayaku marah ketika mengajar. Anak kelas 6 itu pun terdiam. Menundukkan wajahnya. Aku yang tak sengaja mendengarnya pun tak tahan. Kasihan. Seberapa pun “ndablek”nya seorang anak, mereka tetap saja manusia. Yang tak suka dibentak, yang ingin diperhatikan. Padahal, kehadiran anak itu untuk belajar sebenarnya sudah merupakan perbuatan yang baik. Lalu, mengapa harus dilukai? Ketidakbisaannya mengerjakan apakah 100% karena kesalahannya? Rasulullah saja tidak marah saat seorang Badui kencing di masjid. Membiarkannya sampai dia puas untuk kencing, baru kemudian lantai masjid yang kotor dibersihkan. Maka, seorang guru pun bisa seperti itu. Bukan berarti membiarkan siswa terus tidak bisa dan memarahinya, tapi lebih bagaimana memotivasinya atas kebaikan yang telah dilakukannya dan memberinya energy untuk tidak mengulangi kesalahannya. Guru motivator. Ya, itu dia. Bagaimana caranya? 1. Jangan meminta atau memaksa, tapi ajaklah Setiap hari ajaklah siswa untuk menikmati pembelajaran. Mulai dari mereka masuk pintu kelas hingga ganti pelajaran/pembelajaran berakhir. Undang mereka untuk menjadi bagian terpenting dalam proses pembelajaran. 2. Percayalah pada siswa Anda Allah sudah menjadikan diri setiap manusia adalah unik, berpotensi, selain punya akal untuk berpikir. Seorang guru harus yakin bahwa setiap siswanya bisa sukses dan terus berusaha agar mereka berpikir bahwa ada tanggung jawab besar atas keunikan, potensi, dan akal yang Allah yang berikan. Bantu siswa Anda agar merasa memiliki potensi ini hingga mereka semangat untuk terus belajar dan belajar. Usaha untuk belajar inilah yang memang harus ditampakkan. Jika ada kegagalan, ajarkan pada siswa bahwa penyebabnya adalah kesalahan pada usaha, sehingga ketika siswa menghadapi situasi yang sama mereka tidak akan mengulangi usaha tersebut untuk kedua kalinya. 3. Hargai usaha siswa, bukan kemampuannya Konsentrasikan selalu untuk memuji atau memberikan penguatan pada usahanya, bukan kemampuannya. Teringat sebuah kata bijak di sebuah pertemuan,”Gagal karena ada perencanaan dan usaha sebelumnya lebih baik daripada berhasil tanpa pernah ada perencanaan dan usaha sebelumnya.” 4. Bersama siswa membuat tujuan pembelajaran Sekali-sekali, perlu kiranya Anda dan siswa membuat tujuan pembelajaran bersama. Tentu saja tujuan yang realistic dan dapat diukur keberhasilannya. Guru bisa saja memulai pembelajaran dengan tujuan yang dibuatnya sendiri untuk suatu pokok bahasan tertentu, tetapi untuk pokok bahasan selanjutnya (utamanya yang masih berkaitan dengan pokok bahasan sebelumnya yang sifatnya pengembangan), ajak siswa untuk membuatnya. 5. Biarkan siswa menjadi dirinya sendiri di kelas Sudah diketahui bahwa setiap siswa punya gaya belajar sendiri yang bisa mempercepat proses belajarnya. Sesekali, fasilitasi mereka untuk bisa memilih tempat duduk yang mereka suka (kalau ada yang “melantai” biarkan juga), menggunakan media yang mereka suka (tentu saja dalam konteks pembelajaran ya!), atau apapun asalkan mereka nyaman. Ini tentu saja tidak sembarangan. Guru tetap harus mengendalikan mereka dengan norma-norma atau aturan kelas yang sudah disepakati hingga antara satu siswa dengan siswa yang lainnya tidak ada yang saling mengganggu. 6. Beritahukan 5 hal di atas kepada orang tua siswa Terakhir, lima tips di atas sebarkan ke orang tua siswa sehingga mereka pun bisa melakukan apa yang telah Anda lakukan. Guru pemarah? No! Guru motivator? Yes! Cacian dan makian? Tidak lagi.
|