DIKLAT DAN MAGANG KEPALA SEKOLAH ANGKATAN KE-4 PDF Print E-mail
Written by admin   
Friday, 05 February 2010

Iklim sekolah yang sehat berkaitan dengan meningkatnya prestasi dan motivasi belajar siswa serta produktivitas dan kepuasan guru. Prakarsa ke arah terciptanya healty school culture tersebut sebagian besar berada pada tangan kepala sekolah sebagai pemimpin (Stopl, 1994). Pada saat KPI memberikan masukan ketika berkunjung ke sekolah-sekolah, supervisi atau coach maupun ketika pelatihan tentang peran pentingnya keberadaan Kepala Sekolah,maka mereka balik bertanya ” Apakah KPI menyediakan orang sebagai kepala sekolah sesuai kritearia kepala sekolah yang ideal?” Di Indonesia belum ada lembaga atau instansi yang menyiapkan keberadaan Kepala Sekolah, tidak seperti dalam menyiapkan guru.

            Kualita Pendidikan Indonesia (KPI) sebagai lembaga yang perduli pada peningkatan mutu sekolah, mengadakan DIKLAT & MAGANG KEPALA SEKOLAH dan CALON KEPALA SEKOLAH sebagai bentuk untuk memberikan bekal yang diberikan kepada Kepala Sekolah (Kepsek) atau calon Kepala Sekolah (Cakepsek).

 

Maksud dan Tujuan

1.      Memberikan pengetahuan tentang tugas pokok sebagai kepala sekolah melalui kegiatan diklat.

2.      Melihat secara langsung bagaimana kerja kepala sekolah dan problem solving permasalahan yang dihadapi oleh peserta mealui kegiatan magang.

 

  Image 

Last Updated ( Friday, 21 May 2010 )
 
DIKLAT GURU SD S1+ PDF Print E-mail
Written by admin   
Thursday, 10 September 2009

Sebagai salah satu solusi atas ketidakkeseimbangan antara semakin banyaknya MI/SD dengan ketersediaan guru yang komitmen dan kompetensinya, Kualita Pendidikan Indonesia (KPI) mendirikan Diklat Guru Sekolah Dasar / DGSD S1+

 

Dana Pendidikan 

YDSF mensubsidi 70% dari biaya keseluruhan, dan hanya 30% dari biaya keseluruhan yang ditanggung oleh peserta, yaitu:

 

Pendaftaran                              Rp.     50.000,-

Biaya Non Pendidikan            Rp.   950.000,-

                                               ______________ +

TOTAL                                      Rp. 1.000.000,-

 


Materi Uji

  1. Interview
  2. Baca Al Qur'an
  3. Uji Tulis
  4. Psikotes

Waktu Pelaksanaan

Program pendidikan dan pelatihan ini akan dilaksanakan selama 2 semester dalam 1 tahun untuk 1000 jam diklat

 

Syarat Pendaftaran:

  1. Lulusan S1 dari perguruan tinggi keguruan maupun non keguruan
  2. Muslim / Muslimah
  3. Memiliki komitmen pada pendidikan dan da'wah
  4. Memiliki kebiasaan ibadah yang baik
  5. Usia maksimal 30 tahun
  6. Mengisi formulir pendaftaran
  7. Menyerahkan 4 lembar pas foto ukuran 3x4
  8. Menyerahkan fotocopy sah ijazah dan transkrip nilai SMA dan S1
  9. Lulus Tes Materi Uji

Tempat Pendaftaran

Kampus DGSD / S1

Basement

Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (Ruang Usman)

Jl. Pagesangan Surabaya

Telp. 031 70040380

HP. 081 231 092023

 

Kantor Pusat

Kualita Pendidikan Indonesia (KPI)

Jl. Gayungsari Barat X/6

Surabaya

Telp. 031 828 4963

Email : This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

website : www.kpiforteacher.org 

 

setiap senin s.d. jumat

pukul 09.00 s.d. 16.00

Last Updated ( Friday, 11 September 2009 )
 
10 Langkah Mengisi Ramadhan Bersama Anak PDF Print E-mail
Written by admin   
Wednesday, 02 September 2009

 Image

Shaum (puasa) Ramadhan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Maka mendidik anak untuk berpuasa Ramadhan menjadi kewajiban keislaman yang integral bagi para orang tua. Para sahabat Rasul telah mendidik putra-putri mereka yang masih kecil untuk berpuasa. Seperti yang dituturkan shahabiyah Rubayyi' binti Mu'awwiz tentang bagaimana cara mereka mendidik anak-anak mereka berpuasa Asyura (sebelum diwajibkan puasa Romadhon): "...dan kami melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila diantara mereka ada yang merengek minta makan, maka kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu berbuka." (HR. Bukhari Muslim).

Dari riwayat diatas, kita dapat mengetahui bahwa para sahabat memberikan perhatian yang serius dalam melatih putra-putri mereka untuk membiasakan berpuasa. Lantas apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk meneladani tradisi sahabat tadi? Ada 10 panduan yang perlu kita perhatikan :

1. Melakukan pengkondisian menyambut Ramadhan dengan memberi bekalan pemahaman yang memadai tentang keutamaan Ramadhan. Jika pengkondisian ini dilakukan berulang-ulang sejak sebelum Ramadhan tiba, sangat mungkin akan tumbuh niat yang kuat pada anak untuk berpuasa Ramadhan.

2. Menyambut Ramadhan dengan keriangan dan keceriaan. Rasulullah telah menasehati Abdullah bin Mas'ud untuk menyambut Ramadhan dengan wajah yang berseri tidak cemberut. Jika kita perluas keceriaan tadi, dapat juga dengan cara memberi dekorasi yang khas pada kondisi rumah, sehingga anak semakin menyadari akan keistimewaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Hal ini akan menstimulus mereka untuk berpuasa. Dibuat sedemikian rupa sehingga bulan Ramadhan adalah hari-hari yang paling indah untuk dikenang sang anak hingga mereka remaja dan dewasa. Ini tentu akan lebih mudah tercapai jika ada peran serta masyarakat umum dan pemerintah dengan menghidupkan syiar-syiar Ramadhan di jalan raya, perkantoran, pabrik, media masa dan lain-lain.

3. Menata jam tidur anak-anak sehingga akan mudah bergairah saat bangun sahur. Waktu sahur sebaiknya diakhirkan (kira-kira satu atau setengah jam menjelang salat subuh) sebagaimana anjuran Rasulullah. Hikmahnya antara lain agar setelah sahur tidak terlalu lama menunggu waktu subuh.

4. Tidak meletakkan makanan, minuman dan buah-buahan secara terbuka, sehingga akan menggoda mereka untuk segera membatalkan puasanya. Makanan diletakkan pada tempat yang jauh dari perhatian mereka. Hal ini juga sepatutnya diperhatikan oleh restoran dan penjaja makanan dipinggir jalan.

5. Terhadap anak yang baru berlatih puasa (belum kuat dan gampang terpengaruh), sebaiknya mereka dijauhkan bermain dari anak-anak yang malas berpuasa. Dan didekatkan dengan anak-anak lainanya yang juga tekun berlatih. Ini perlu dilakukan agar mereka memperoleh rasa kebersamaan, bukan keterasingan karena puasanya.

6. Melatih berpuasa dengan bertahap dan menjanjikan hadiah sebagai rangsangan. Misalnya di awali dengan izin berbuka sampai jam 10, lalu jam 12 dan seterusnya sampai akhirnya penuh sampai waktu berbuka. Hadiahnya disamping penghargaan dan pujian sebagai anak yang sabar, juga dapat diberikan hadian lain yang beraspek mendidik berupa alat-alat belajar.

7. Stimulus dengan pahala dan surga dari Allah. Jadi hadiah materi diatas tak menutupi stimulus ganjaran Allah. "Jika kamu berpuasa, maka kamu ikut membuka pintu pahala dari Allah bagi orangtuamu yang telah mendidikmu untuk berpuasa". Anak akan senang karena sekaligus dapat berbuat sesuatu kebaikan untuk orangtuanya.

8. Memberi alternatif pengisian waktu yang tepat dan positif. Baik dengan istirahat tidur di siang panas, maupun dengan alternatif permainan yang mendidik untuk melupakan mereka dengan rasa haus dan lapar yang menyengat. Sebagaimana yang telah dilakukan shahabiyah di masa Rasul. Saat ini sudah ada pesantren Ramadhan untuk anak-anak dan remaja, ini juga alternatif kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Atau orangtua dapat juga bersepakat dengan anak-anaknya untuk memasang target, bahwa seusai bulan Ramadhan kemampuan mereka mengaji Al Quran harus lancar dan lebih baik. Perhatian kepada Al Quran memang harus lebih besar di bulan Ramadhan, karena Al Quran diturunkan pertama kali pada bulan ini. Dapat pula orang tua membacakan kisah-kisah keteladanan Islami, atau mendengarkan kaset-kaset cerita Islami.

9. Mengajak anak-anak untuk meramaikan syiar Ramadhan, seperti sholat tarawih berjamaah di masjid, mengaji dan mengkaji Quran, menyimak ceramah-ceramah agama, menyuruh mereka mengantar makanan ke masjid untuk orang yang berbuka puasa, lebih menggemarkan berinfak, shadaqah dan lainnya.

10. Khusus untuk para orang tua, jika mereka menyepelekan pendidikan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya, maka mereka harus siap bertanggung jawab kepada Allah kelak di akhirat, jika putra-putrinya kemudian melalaikan kewajiban puasa Ramadhan. Oleh karena itu mereka harus memanfaatkan semaksimal mungkin pembiasaan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya sejak dini. Dengan perhatian yang intens dan cara-cara yang bijak, niscaya dapat menggugah kesadaran anak-anak untuk berpuasa. Kesadaran itu tentu akan merupakan tabungan ibadah bagi para orang tua yang telah mendidik mereka.

Jika hal-hal di atas kita lakukan, maka Insya Allah keberkahan Romadhon akan turun ke setiap keluarga muslim.[]
Last Updated ( Wednesday, 02 September 2009 )